Rabu, 03 September 2008

Sabar Menanti Hadirnya Buah Hati


Kehadiran seorang anak dalam sebuah pernikahan merupakan salah satu motivator seseorang untuk menikah. Bahkan dapat dikatakan kebahagiaan paripurna suatu pernikahan baru dapat terwujud manakala ada celoteh anak - anak yang hadir meramaikan suasana rumah tangga.

Kehadiran anak juga merupakan sunnatullah yang muncul dari fitrah kemanusiaan. Sehingga umat manusia dan bahkan nabi sekalipun seringkali memanjatkan doa berkaitan dengan harapan untuk memiliki anak.

Tengoklah bagaimana Nabi Zakariya dan istrinya yang telah begitu tua namun tetap tidak bisa merendam kerinduan mereka akan hadirnya seorang buah hati. Hingga akhirnya, setelah doa tak putus-putus mereka lantunkan, Allah memberikan kepada mereka seorang anak, Yahya As.

Pentingnya kehadiran anak bukan sekedar untuk memuaskan dahaga fitrah keibuan dan keayahan. Bukan pula sekedar untuk melanjutkan keturunan. Dalam islam anak bahkan merupakan penerus tercurahnya pahala yang tak pernah putus terhadap orang tuanya. Disinilah pentingnya orang tua untuk berusaha memiliki anak, supaya dapat mendidik anak tersebut menjadi anak yang sholih sehingga kebaikan - kebaikan yang dilakukan oleh anak tersebut memberikan transfer pahala pula kepada kedua orang tuanya.

Hanya saja, tidak selamanya dalam sebuah rumah tangga diramaikan oleh kehadiran anak - anak. Banyak pula pasangan yang tidak kunjung memiliki anak. Bila sang buah hati yang dinanti tak kunjung hadir, seringkali yang muncul adalah konflik-konflik rumah tangga yang berkepanjangan. Konflik ini biasanya muncul karena stress (tekanan), entah tekanan yang muncul dari pasangan yang menyalahkan atau kurang mensupport atau tekanan dari lingkungan yang kurang empati dan menyudutkan. Lalu bagaimana sebaiknya suami istri bersikap ?

Menghadapi lingkungan jangan terbawa emosi, bisa menyulut stress nantinya. Kuncinya, harus sabar dan ada saling pengertian serta saling mendukung antara pasangan. Sehingga semua pertanyaan yang gencar dari pihak keluarga atau lingkungan tidak sampai membuat pasangan, terutama istri tertekan. Hadapi saja dengan manis dan meminta dukungan doa mereka. Misalnya dengan berkata, "Iya nih, belum dikasih sama Allah. Mohon doanya ya ! "

Bagi pasangan yang belum dikarunia anak, berdoa dan berikhtiar adalah dua hal yang harus dilakukan secara bersamaan. Berdoa untuk mendapatkan anak tidak boleh putus dipanjatkan. Seperti doa dan kesabaran nan sempurna yang diteladankan oleh Nabi Zakariya yang baru dikaruniai anak setelah berusia 100 tahun dan istrinya 98 tahun. Doa yang kemudian oleh Allah diabadikan dengan indah dalam Al Qur'an surat Maryam : 4 :

" Dia (Zakaria) berkata "Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, Ya Tuhanku."

Selagi itu, berupaya semaksimal mungkin dengan mempergunakan kemajuan teknologi ilmu kedokteran juga dianjurkan. Ada kasus, seorang istri yang sudah dioperasi rahimnya, namun dengan kekuasaan Allah, dia tetap bisa mempunyai anak. Kuncinya adalah sabar, banyak berdoa dan memupuk keyakinan bahwa Allah maha kuasa.


# NIKMAT AQIQAH #
Profesional Sesuai Syari'ah
Jl Harvard No 8 Simogunung Surabaya 60255.
Hotline : 031.725.11.000;031.5666.466

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jadwal Shalat