Selasa, 25 November 2008

Menepis Mitos Negatif Daging Kambing


Kita semua pasti sepakat, bahwa di Bulan Dzulhijjah ini, tingkat konsumsi daging akan melonjak tinggi. Sebab di bulan tersebut akan tersedia daging hewan qurban yang cukup banyak, terutama daging kambing yang menjadi hewan favorit pengkurban. Berkah bagi para penerima daging qurban, patut kita sikapi secara arif, apalagi menyangkut masalah kesehatan. Jika kita tidak waspada, daging kambing justru akan menjadi bumerang bagi siapapun.

Bagi mereka yang berusia 40 tahun keatas, daging kambing bisa menjadi momok yang menakutkan. Sebab daging kambing dapat mengakibatkan berbagai penyakit. Mulai dari stroke, darah tinggi, obesitas dan sebagainya adalah beberapa “penyakit bawaan” daging kambing. Benarkah demikian ? Mitos apalagi yang identik dengan hewan piaraan para nabi ini ?

Sebetulnya ada kesalahan informasi di masyarakat kita dalam menyikapi daging kambing. Menurut dr Arif Basuki, Sp An, dokter spesialis RS Haji Surabaya dan ketua BSMI cabang Surabaya, timbulnya stroke tidak bisa digebyah uyah karena mengkonsumsi daging kambing. Semua makanan halal itu tidak akan akan menjadi masalah jika orang yang bersangkutan sehat wal afiat. Menjadi penyakit tatkala, pada saat mengkonsumsi kambing, yang bersangkutan dalam kondisi tidak fit dan memprihatinkan. Jika dipaksakan mengkonsumsi maka penyakit yang dikhawatirkan tersebut bakal muncul.

Orang yang sedang tidak fit tadi ibarat sedang berada di tepi jurang. Jika ia nekad mengkonsumsi daging kambing, sangat mungkin tersungkur ke dalam jurang penyakit, collapse. Itulah yang disebut faktor resiko. Faktor resiko ini berbeda pada masing-masing orang. Tapi pada umumnya, usia 40 tahun keatas adalah masa-masa beresiko. Pada usia 40 tahun, kinerja tubuh ini semakin tinggi disleingi dengan aktivitas yang padat. Jadi sebetulnya bukan pada kambingnya karena justru banyak nutrisi yang terkandung dalam daging kambing.

Bahkan di belahan bumi ini, daging kambing menjadi makanan pokok, seperti ayam atau telur. Kandungan lemak pada kambing justru tidak terletak pada daging melainkan pada bagian yang orang jawa menyebutnya gajeh. Jika kita hanya mengkonsumsi dagingnya, asal tidak berlebihan, Insya Allah tidak ada masalah.

Bagi mereka yang berkecenderungan hipertensi atau kolesterol, daging kambing dan daging-daging lain dari jenis daging merah menduduki tempat keempat sebagai makan yang berkadar kolesterol tinggi. Sedangkan makanan yang paling tinggi kadar kolesterolnya adalah otak, kemudian jeroan, kulit dan terakhir baru daging.

(Disarikan dari Majalah LMI)

# NIKMAT AQIQAH #
Profesional Sesuai Syari'ah
Jl Harvard No 8 Simogunung Surabaya 60255.
Hotline : 031.725.11.000;031.5666.466

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jadwal Shalat