Kamis, 20 November 2008

Senangnya Tertawa Bersama Si Kecil


Tak jarang saat Anda di kantor teringat tawa terkekeh si kecil saat digelitik. Atau, saat Anda membuat ekspresi aneh di wajah Anda. Maka akan terdengar suara tawanya yang sangat lucu.

Humor adalah kegiatan sosial. Hal itu yang menyebabkan seseorang akan tertawa lebih keras ketika menonton film komedi di dalam bioskop, dibandingkan menontonnya sendiri di rumah.

Nyatanya humor juga bermanfaat untuk meningkatkan ikatan batin (bonding) antara orangtua dan anak. Menurut penulis buku Understanding and Promoting the Developement of Children’s Humor, Paul McGhee, ada proses bonding yang terjadi di ketika tertawa bersama seseorang.

“Anda akan merasa lebih dekat dengan seseorang yang tertawa bersama Anda. Hal ini juga dapat terjadi pada anak usia 12 bulan,” kata McGhee yang juga seorang presiden laughterremedy.com.

Rasa kebersamaan itu juga dapat ditambah dengan bahan candaan yang diturunkan dari orangtua kepada anak. Hal tersebut dapat memperkuat bonding, juga dapat membantu anak mengenai akar keberadaan keluarga.

Psikolog anak dan editor psikolog untuk KidsHealth.org, D'Arcy Lyness PhD mengungkapkan, salah satu kunci untuk mengembangkan kemampuan humor pada anak adalah lebih banyak menghabiskan waktu yang menyenangkan dalam keluarga. Bisa dengan berbagi bahan candaan, bermain atau menonton film komedi bersama.

“Bahkan orangtua dapat menciptakan humor sendiri dalam keluarga, misalnya menggantungkan sendok di hidung atau menggunakan piyama yang berlainan warna dan corak. Hal tersebut bisa lucu untuk saat ini, atau ketika mengingat hal konyol tersebut di masa yang akan datang,” ujar Lyness.

Menurut Herzog, penulis buku ”Father Hunger: Explorations with Adults and Children” ini, sensitivitas anak terhadap humor sudah dimulai sejak anak berusia bayi. Selanjutnya, selera humor ini akan tumbuh seiring dengan berkembangnnya kemampuan kognitif juga kemampuan verbal anak.

Sejak usia 6-12 bulan anak mulai senang menyaksikan tingkah orangtua atau pengasuh yang ganjil. Orangtua dapat sering-seringlah bicara dengan gaya yang berlebihan atau memasang ekspresi konyol, kemudian tertawalah bersama si kecil.

Meski begitu orangtua juga perlu menjaga tawa anak. Kadang tawa anak sering salah tempat. Dia bisa saja mengangap si kucing Tom yang kepalanya tertimpa batu dalam film kartun adalah hal lucu. Sebab dilihat berulang-ulang dan sepertinya Tom tak merasa kesakitan sama sekali.

Mereka tak tahu bahwa sesuatu yang bersifat komikal tak selamanya lucu. Tak hanya kartun, anak bisa juga mentertawakan kekurangan orang lain yang dianggapnya lucu.

Yang juga perlu diingat bahwa tertawa itu juga ada tempat, waktu dan sasarannya. Salah saja memilih tempat, waktu, atau sasarannya, tawa bisa menghadirkan malapetaka.

Jangan coba-coba ketawa pada saat upacara di sekolah, lebih -lebih ketika ada acara mengheningkan cipta. Jangan coba-coba pula tertawa saat semua sedang berdoa, tawa bisa menjadi sumber malapetaka.

Hal semacam itu yang perlu diperhatikan. Tuntun anak menjadi seorang humoris yang lurus. Biarkan dia belajar menemukan sesuatu yang ringan dari sebuah situasi yang sulit. Humor memberi jalan keluar yang efektif ketika anak berurusan dengan tuntutan tugas perkembangannya. (www.republika.com/rin)



# NIKMAT AQIQAH #
Profesional Sesuai Syari'ah
Jl Harvard No 8 Simogunung Surabaya 60255.
Hotline : 031.725.11.000;031.5666.466

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jadwal Shalat